Ku rangkai sebuah kisah dengan sederet kata lara
Ku tulis sebuah puisi dengan linangan air mata
Ku simpan berkas duka dalam arsip derita
ku jadikan lukisan wajahmu sebuah permata
untuk ku pandangi saat rindu menyapa
Ku tulis sebuah puisi dengan linangan air mata
Ku simpan berkas duka dalam arsip derita
ku jadikan lukisan wajahmu sebuah permata
untuk ku pandangi saat rindu menyapa
Sayatan luka demi luka
Terus saja merongrong raga
ingin rasanya berteriak mengutuk semesta
namun berbisik pun aku tak mampu, diam tanpa kata
Terus saja merongrong raga
ingin rasanya berteriak mengutuk semesta
namun berbisik pun aku tak mampu, diam tanpa kata
aku termenung menulis kenangan
Diatas selembar bayang berpenakan angan
Dipinggir pantai dan diujung senja
Diatas selembar bayang berpenakan angan
Dipinggir pantai dan diujung senja
Saat kita melantai dulu kau tak pernah lelah kupuja
Tanganku gemetar, penaku menari tak beraturan
Ada yang kencang bergetar, rupanya hati sedang tak karuan
Otakku terus berputar mencari inspirasi ditengah kehampaan
Kisah itu perlahan pudar, tak sempat terlukiskan
Puisi ini tak lagi bermakna, ia kehilangan pemiliknya
Tulisan ini tak lagi bernyawa, ia kehilangan jiwanya
Senja tak lagi ceria, ia kehilangan keindahannya
Akupun tak lagi bercerita, kisah ini telah menemui ujungnya
Kupang, 18 April 2020

2 Comments