Advertisement

Responsive Advertisement

Suatu ketika di tahun belasan terakhir abad XX



Kota ini sedang dilanda gerimis
Kala hati dipenuhi rasa pemisis
Adalah takut bangkit setelah gagal lalui kisah manis
Hai Penutup tahun tolong jangan bengis

Ada senyum yang hilang dalam kebisingan
Diredam riunya penduduk kota yang berlarian mencari tempat berteduh
Hai penghujung tahun, sapaku!
Bisakah kita berdamai untuk terakhir kalinya?

Halo Desember, sudah cukup!
Januari telah memberiku sejuta tawa
Februari tak mau kalah, bulan pendek penuh keceriaan
Penghujung Maret merenggut segalanya 
Sisanya adalah bulan penuh perjuangan, menata hati untuk kembali baik-baik saja


Jatuh, bangkit kemudian kembali tersungkur
Rutinitas membosankan menjelma hobi baru
Rupanya ada yang belum selesai;berdamai dengan diri sendiri
Hati dan pikiran tidak sedang baik-baik saja

Pertikaian panjang tiada ujung
Hati terlalu angkuh untuk sekedar mendengarkan nasihat pikiran
Hingga waktu benar-benar kepayahan:tak mampu mendamaikan
Menyisakan amarah lalu berlalu tanpa menoleh

Bulan-bulan penuh lara sudah cukup tersaji
Hati telah teriris habis, cukup! Ini tidak lucu
Tahun ini spesial, tahun belasan terakhir abad dua puluh
Biarkan aku menutupnya dengan senyuman




Jln. Thamrin-Kayu Putih, 13 Desember 2019

Post a Comment

1 Comments

Mata Sami' said…
Aamiin aamiin

Biarkan kita menutupnya dg senyuman. 😊